
Ada pepatah yang populer mengatakan, "guru kencing berdiri, murid kencing berlari". Maknanya kira-kira tindakan dan perilaku guru akan memancar dan memengaruhi perilaku siswanya. Jika perilaku guru buruk, maka perilaku siswa berpotensi jauh lebih buruk dari gurunya. Bagaimana jika perilaku negatif guru adalah malas mengajar? Apakah akan menjadikan murid malas belajar? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita boleh beradu argumentasi.Secara umum jika saya amati, ada empat kondisi terkait ngajar -belajar, guru-murid. Pertama, gurunya rajin mengajar, muridnya malas belajar. Kedua, gurunya rajin ngajar, muridnya rajin belajar. Ketiga, gurunya malas ngajar, muridnya (ada) yang rajin belajar. Keempat, gurunya malas ngajar dan muridnya malas belajar.
Untuk kondisi yang pertama, kerap terjadi pada sekolah yang bagus dalam pola rekrutmen, pembinaan, dan penghargaan guru, tapi buruk dalam merekrut peserta didik baru. Kondisi seperti ini kerap dialami oleh sekolah yang baru didirikan. Sekolah yang baru berdiri, yang penting ada murid, lebih diharapkan lagi asal banyak murid. Gurunya bersemangat baja, tapi siswanya secara umum "ampun-ampunan", butuh kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi animal educandum.
Kondisi kedua, gurunya rajin mengajar, muridnya rajin belajar. Ini terjadi pada sekolah yang pola rekrutmen, pembinaan, dan penghargaan terhadap gurunya bagus, sekaligus bagus pula dalam rekrutmen calon peserta didiknya.
Hal ini akan mudah kita temukan pada sekolah yang merawat dan peduli terhadap mutu. Bila dilihat dari usia sekolahnya, tentu bukan balita (bawah lima tahun) lagi, meskipun dalam kasus tertentu, usia sekolah tidak selalu menjadi ukuran untuk menemukan kondisi yang seperti ini.
Kondisi ketiga, gurunya malas ngajar, tapi muridnya rajin belajar. Hal ini dapat kita temukan pada sekolah yang buruk dalam pembinaan dan penghargaan terhadap guru tapi bernasib baik dalam mendapatkan input calon peserta didik.
Sekolah seperti ini, kultur belajar siswanya sudah terbangun. Bisa jadi di luar sekolahpun, mereka giat belajar semisal belajar dengan guru les atau mengikuti bimbingan belajar. Bila ada guru yang malas ngajar di sekolah, mereka manfaatkan untuk diskusi dan membahas soal-soal suatu mata pelajaran.
Kondisi keempat, gurunya malas ngajar, muridnya malas belajar. Nah, kondisi memprihatinkan seperti ini terjadi pada sekolah yang rekrutmen, pembinaan, dan penghargaan terhadap gurunya buruk sekaligus buruk pula input peserta didiknya. Hal ini umumnya terjadi justru pada sekolah yang cukup umur. Lantaran, lemah dalam aspek manajemen dan tidak peduli terhadap mutu, sekolah seperti ini tidak menjadi pilihan utama masyarakat. Boleh dibilang sekolah alternatif kedua atau ketiga untuk di MTsN 1 Sarolangun masih kita rasakan kurangnya disiplin guru dalam PBM banyak waktu yg tersisa untuk kegiatan yg tidak menunjang PBM seperti guru masuk terlambat, tidak berada di ruang kelas saat Jam pelajaran dan waktu apel pagi yg memakan waktu PBM ungkap Abdullah Kina'i ,S. Ag Waka kurikulum MTSN 1 Sarolangun
|
552x
Dibaca |
Untuk Wilayah Kab. Sarolangun dan Sekitarnya
Memuat tanggal...